tag
Sepakbola

Calvinisme Sebagai Kunci Keberhasilan Belanda

Minggu, 29 Juni 2014 20:52 WIB
Pemain dan pelatih Belanda terbiasa untuk melakukan perdebatan dalam menentukan strategi.
  • Calvinisme Sebagai Kunci Keberhasilan Belanda
    Internet

    Dari Kiri Ke Kanan - John Calvin, Rinus Michels, Johan Cruyff dan Louis van Gaal

Minggu (29/06/14), kemenangan spektakuler Belanda atas Spanyol menyiratkan kerjasama Robin van Persie dan Louis van Gaal yang akan menjadi tandem mematikan di Liga Inggris musim ini di Manchester United.

Louis van Gaal yang awalnya diragukan untuk bisa bawa Belanda lolos dari Grup B, nyatanya malah mengangkangi Spanyol. Tak diragukan lagi kehadiran anak-anak muda inilah yang sukses melakukan pressing-pressing kepada gelandang Spanyol.

Lalu bagaimana bisa tiki-taka Spanyol bisa takluk dari skema total football Belanda yang notabene merupakan akar dari tiki-taka? Calvinisme adalah jawabannya.

Dalam bukunya yang berjudul 'Soccer Against The Enemy' Simon Kupper menjelaskan kenapa ada begitu banyak pelatih hebat yang berasal dari Belanda dan kenapa mendiang Bobby Robson yang diklaim oleh orang Inggris sebagai pelatih hebat, hanya dianggap pelatih medioker oleh anak asuhnya di PSV Eindhoven.

Kultur sepakbola Inggris tidak terlepas dari kelas pekerjanya yang menjadikan sepakbola sebagai pelarian dari kerja keras. Para pekerja tak ubahnya seperti halnya sebuah mesin yang sudah sangat terpola sistem operasinya.

Pun begitu dengan sepakbola Inggris yang sedari dulu hanya memainkan pola kick and rush atau bola-bola panjang. Pemain Inggris sedari kecil sudah diajari pola kick and rush sehingga sulit jika diminta untuk melakukan varian lain.

Berbeda dengan Inggris, kelas pekerja Belanda lebih mengedepankan kultur berdebat. Perdebatan adalah hal yang wajar di Belanda karena setiap orang dianggap setara dalam segala hal.

Kebiasaan untuk berdebat dan mempertanyakan segala hal muncul akibat ajaran John Calvin yang lebih dikenal sebagai Calvinisme. Para Calvinist ini mengajari orang untuk menghiraukan otoritas gereja Katolik yang saat itu sangat sewenang-wenang.

Selain itu Calvinisme juga mengajarkan untuk membaca sendiri Injil mereka kemudian mengartikannya sendiri dan tidak begitu saja percaya kepada Pastor.

Atas dasar itulah kultur perdebatan juga menginfiltrasi sepakbola Belanda. Hal itu mendorong perdebatan tentang taktik, karena setiap orang diasumsikan sama-sama mengerti dan seorang pemain bisa mempertanyakan pilihan strategi dari pelatihnya.

Pemain Belanda tidak akan sekonyong-konyong mengikuti instruksi pelatih. Lebih dari itu, mereka mencoba mencari tahu alasan di balik putusan sang pelatih. Bahkan, para pemain di Belanda tak jarang berani mengkritisi taktik pelatihnya.

Arrigo Sacchi, salah satu sesepuh sepakbola modern mengatakan bahwa trio Belanda, Ruud Gullit, Frank Rijkaard dan Marco van Basten berdiskusi panjang mengenai pola permainan apa yang seharusnya diterapkan AC Milan pada saat itu.

Hasilnya, delapan titel bergengsi berhasil diraih Sacchi karena hasil 'perdebatannya' dengan trio Belanda itu. Namun Ironisnya, atas dasar perdebatannya dengan trio Belanda itu pula yang membuat Sacchi angkat kaki dari San Siro.

Kebiasaan berdebat tentu tidak ada dalam kultur sepakbola Inggris atau Spanyol. Dalam sepakbola Inggris, pelatih mendapat sebutan 'Boss', sementara dalam bahasa Spanyol, seorang pelatih kerap dipanggil dengan sapaan 'Mister'. Keduanya tak memberikan ruang bagi pemain untuk berdebat.

Bobby Robson kaget bukan kepalang ketika melihat tingkah anak didiknya di PSV Eindhoven.

“Di sini para pemain sangat tertarik dengan taktik, tentang bagaimana kami akan bermain, dan cara kami dalam mengubah sesuatu,” ujar Robson kepada majalah World Soccer.

Di lain hari, Robson juga heran saat ia didatangi John Bosman yang meminta penjelasan kenapa ia diganti. Namun Robson hanya berkata,"pemain baru bisa mengerti pergantian pemain saat mereka sudah menjadi pelatih." Alasan Robson tidak bisa diterima oleh Bosman, dan Robson hanya bertahan di Belanda selama dua tahun.
 
Keberhasilan Belanda sejauh ini tak lepas dari hasil perdebatan total football yang terus direvisi dan diperdebatkan. Tiki taka adalah adaptasi dari total football dan Spanyol berhasil mengalahkan sang empunya strategi empat tahun silam. Kini, Belanda kembali ajari Spanyol bagimana bermain bola. Murid kencing berlari, guru kencing lepas tangan

            

 

Baca juga artikel-artikel sejenis di liputan khusus Brasil 2014
Editor : Raditya Adi Nugraha

Tag Terkait

#Piala Dunia Brasil 2014 #Belanda #Louis van Gaal
  • comment
Artikel Terkait
Komentar