tag
Sepakbola
Berbagi Kisah Inspiratif

Hengky Timisela Tegaskan Pentingnya Karier dan Pendidikan

Sabtu, 12 Juli 2014 23:21 WIB
Hengky Timisela sebut pesepakbola harus mengenyam pendidikan.
  • Hengky Timisela Tegaskan Pentingnya Karier dan Pendidikan
    Herry Ibrahim/indosport

    Hengky Timisela tekankan pentingnya Pendidikan.

Hengky Timisela, legenda sepakbola terbaik yang pernah dimiliki Indonesia, menceritakan kisahnya yang memutuskan untuk mengenyam pendidikan tinggi dan berani meninggalkan karier sebagai pesepakbola, Sabtu (12/07/14).

Hengky mulai mengenyam bangku pendidikan sekolah dasar dan menengah di Europees Lagere School (Sekolah Dasar Eropa) di Cimahi dan Christelijk MULO (Sekolah Menengah Kristen) di Bandung.

Pada 1957, Hengky melanjutkan pendidikannya ke bangku kuliah dan diterima di Fakultas Ekonomi Universitas Padjajaran. Ia adalah mahasiswa angkatan pertama di Fakultas Ekonomi Unpad yang memang baru dibuka pada saat itu. 

Dorongan sang ayah, Domunggus Timisela begitu besar untuk Hengky agar menyeimbangkan antara pendidikan dan karier sebagai pesepakbola.

Pada Februari 1957, sosok yang mendapat julukan Wonder Boy kala itu mendapat panggilan dari PSSI untuk menjalani pemusatan latihan di Jakarta. Hal tersebut ditempuh sebagai persiapan untuk pertandingan persahabatan antara Indonesia melawan RDD (Republik Demokrasi  Djerman) alias Jerman Timur.

Pemusatan latihan pun berlangsung lebih lama hingga 1960 untuk persiapan Pra Olimpiade. Hengky dilanda kegalauan karena di satu sisi ia tidak ingin kuliahnya terganggu. Di sisi lain, Hengky ingin membela Indonesia di kancah pertandingan internasional.

Kepada INDOSPORT, Hengky bercerita,"Saat itu saya bingung antara melanjutkan pemusatan latihan atau kembali kuliah. Akhirnya pihak  Dirjen PTIP (Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan) Depdikbud menawarkan kepada saya kesempatan untuk kuliah."

Dirjen PTIP yang saat itu dijabat oleh Prof. DR. Sjarifuddin Thayeb memberikan kesempatan bagi Hengky untuk melanjutkan pendidikan tinggi di luar negeri. Hengky meminta agar dapat melanjutkan kuliah di Amerika Serikat atau Jerman Barat.

"Saya memilih Amerika Serikat dan Jerman Barat karena masalah bahasa. Di Amerika bahasa pengantarnya bahasa Inggris sedangkan di Jerman Barat pengantarnya bahasa Belanda," ujar legenda yang kini menapaki usia 76 tahun.

Tak diduga, Prof. Sjarifuddin memberikan opsi lain yaitu untuk melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Hitotsubashi, Jepang.

Hengky mengatakan,"Saat itu Prof. Sjarif bertanya kepada saya apakah saya mau ikut untuk beasiswa ke Jepang atau tidak. Saya pun langsung menyetujui. Ini soal sekarang atau tidak sama sekali."

Legenda yang telah membela timnas Indonesia sebanyak 66 kali tersebut akhirnya mengenyam bangku perguruan tinggi pada Maret 1963 di Jurusan Perdagangan Universitas Hitotsubashi, Tokyo,  Jepang.

"Saya menyukai ilmu ekonomi. Saat di Unpad saya mengambil ekonomi dan ketika mendapat tawaran kuliah di Jepang saya mantap mengambil jurusan Perdagangan," ujar ia.

Meski mendapat kesulitan bahasa, Hengky akhirnya mampu menyelesaikan studi dengan sempurna. Ia mendapat gelar sarjana dengan peringkat sempurna alias Cum Laude. Pujian pun diberikan oleh pihak dosen dan universitas.

Lulus kuliah, Hengky menanggalkan sepatu dan memilih bekerja sebagai karyawan. Diantaranya ia pernah bekerja di Taisel Corporation Okura, Jepang, General Manager di Toyota Astra Motor, dsb.

Menutup wawancara dengan INDOSPORT, Hengky berharap agar generasi muda saat ini yang tengah menekuni karier sebagai pesepakbola dapat menyeimbangkan dengan pendidikan.

"Pendidikan dan karier itu perlu berjalan seimbang. Ini adalah bekal untuk kehidupan kita," tuntas Hengky Timisela.


Penulis : Niken Purnamasari
Editor : Raditya Adi Nugraha

Tag Terkait

#Indonesia
  • comment
Artikel Terkait
Komentar